https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/issue/feed Jurnal Pertanian Terpadu 2026-06-29T05:23:55+07:00 Dr. Suharlina, S.Pt., M.Si suharlina@stiperkutim.ac.id Open Journal Systems <p>Jurnal Pertanian Terpadu memuat hasil penelitian bidang pertanian yang mencakup bidang agroteknologi, kehutanan, kelautan, teknik pertanian, teknologi pertanian,&nbsp; peternakan, budidaya perikanan, dan agribisnis.&nbsp;</p> https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/663 Formulasi Edible Film dari Semi Refined Carrageenan Kappaphycus alvarezii dengan Pengemulsi CMC 2026-06-29T05:08:45+07:00 Andika Hidayat andikamuklasadityaputra15@gmail.com Christine Dyta Nugraeni chdytan@gmail.com Happy Bunga Nasyirahul Sajidah happybunga@gmail.com Dena Pramita Dewi denapd93@gmail.com Gazali Salim renitri_c@borneo.ac.id Reni Tri Cahyani renitri_c@borneo.ac.id <p>Limbah plastik merupakan permasalahan lingkungan yang serius akibat sifatnya yang tidak dapat terurai secara biologis dan bertahan di lingkungan selama ratusan hingga ribuan tahun. <em>Edible film</em> yang berbahan dasar biopolimer dari rumput laut merupakan alternatif kemasan <em>biodegradable</em> yang menjanjikan sebagai pengganti plastik konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat fisik edible film yang diformulasikan dari <em>semi refined carrageenan</em> (SRC) hasil ekstraksi rumput laut <em>Kappaphycus alvarezii</em> dengan penambahan <em>carboxymethyl cellulose</em> (CMC) sebagai pengemulsi pada konsentrasi 0,1%, 0,3%, dan 0,5% (b/v) serta gliserin sebagai <em>plasticizer</em>. Karakterisasi fisik dilakukan melalui pengujian kuat tarik, perpanjangan, kelarutan, kadar air, dan ketebalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi CMC secara progresif meningkatkan kuat tarik (10,16–13,76 MPa), kelarutan (80,55–94,44%), dan ketebalan (0,04–0,091 mm), sedangkan perpanjangan mencapai nilai tertinggi pada CMC 0,3% sebesar 34,62% dan kadar air menurun seiring peningkatan konsentrasi CMC (21,78–26,73%). Evaluasi terhadap <em>Japanese Industrial Standard</em> (JIS) menunjukkan bahwa <em>edible film</em> yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan kuat tarik (minimum 0,39 MPa) dan ketebalan (maksimum 0,25 mm) pada seluruh variasi konsentrasi CMC sedangkan &nbsp;nilai perpanjangan (25,49–34,62%) tidak memenuhi ambang batas minimum JIS sebesar 70%. Optimasi formulasi <em>plasticizer</em> lebih lanjut masih diperlukan untuk meningkatkan fleksibilitas film sebagai bahan kemasan pangan</p> 2026-05-08T10:07:26+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/676 Pengaruh Penambahan Pektin Kulit Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Terhadap Karakteristik Fisikokimia Selai Lembaran Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) 2026-06-29T05:08:49+07:00 Suparno Suparno suparno@tip.upr.ac.id Evi Faridawaty evifaridawaty404@gmail.com Wijantri Kusumadati wijantri@tip.upr.ac.id Theresia Novita Sari tresianovita990@gmail.com Devi Fatmawati devi.fatmawati@faperta.upr.ac.id Arief Rahman ariefrahman@politanisamarinda.ac.id <p>Kulit jeruk keprok merupakan sumber pektin yang berpotensi dalam pembentukan gel selai lembaran dengan dikombinasikan bersama kulit pisang kepok, sehingga menghasilkan selai lembaran yang menarik. Tujuan penelitian untuk mengetahui penambahan kulit jeruk keprok pada kulit pisang kepok terhadap kualitas fisikokimia selai lembaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kulit jeruk keprok pada selai lembaran kulit pisang kepok berpengaruh nyata terhadap kadar air, pH, total padatan terlarut, serat kasar, kadar metoksil, dan total fenolik.&nbsp; Selai lembaran dengan penambahan pektin kulit jeruk keprok 0,5 gram merupakan perlakuan terbaik dengan karakteristik fisikokimia meliputi kadar air 18,24%, pH 3,67, total padatan terlarut 21,30 <sup>o</sup>Brix, serat kasar 4,64%, kadar metoksil 11,32 %, dan total fenolik 6,89 mg GAE/g.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-27T08:21:20+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/724 Analisis Keberlanjutan Usahatani Padi Dalam Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim Di Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo 2026-06-29T05:08:52+07:00 Bena Azizah benaaazh@gmail.com Mirza Andrian Syah mirza.a.agribis@upnjatim.ac.id Mubarokah Mubarokah mirza.a.agribis@upnjatim.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan usahatani padi di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2025 hingga Januari 2026 dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan dari 78 petani padi yang dipilih menggunakan teknik multistage random sampling pada lima desa. Penilaian keberlanjutan dilakukan menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS) dengan pendekatan RAP-Fish yang mencakup tiga dimensi, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang direpresentasikan oleh 21 atribut. Keandalan model diuji menggunakan analisis Monte Carlo, sedangkan nilai stress dan koefisien determinasi (R²) digunakan untuk menilai kualitas ordinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan usahatani padi di Kecamatan Buduran secara multidimensi berada pada kategori kurang berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar 48,31. Secara parsial, dimensi ekonomi (47,70), sosial (47,42), dan lingkungan (46,78) juga berada pada kategori yang sama. Dimensi lingkungan memiliki tingkat keberlanjutan terendah yang mencerminkan tingginya kerentanan terhadap tekanan iklim dan degradasi lingkungan. Nilai stress sebesar 0,13 dan R² sebesar 0,95 menunjukkan bahwa model MDS memiliki tingkat keandalan yang baik. Hasil ini menegaskan perlunya strategi adaptasi perubahan iklim yang terintegrasi dan berbasis wilayah untuk meningkatkan keberlanjutan usahatani padi di Kecamatan Buduran.</p> 2026-06-27T08:23:33+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/730 Aplikasi Mikrobia Simbiotik Dalam Meningkatkan Keberhasilan Aklimatisasi Planlet Anggrek 2026-06-29T05:08:57+07:00 Heny Alpandari heny.alpandari@umk.ac.id Winda Widyastuti winda.widyastuti@umk.ac.id Luki Nurlaili luki.nurlaili@umk.ac.id <p>Aklimatisasi merupakan tahap kritis dalam perbanyakan anggrek hasil kultur jaringan karena planlet harus beradaptasi dari kondisi in vitro ke lingkungan ex vitro. Pemanfaatan mikrobia simbiotik berpotensi meningkatkan keberhasilan aklimatisasi melalui peningkatan penyerapan hara dan toleransi terhadap cekaman lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aplikasi bakteri simbiotik terhadap keberhasilan aklimatisasi planlet anggrek. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi bakteri simbiotik, yaitu tanpa bakteri (A0), 2% (A1), 4% (A2), 6% (A3), dan 8% (A4), masing-masing diulang sebanyak 10 kali. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, tinggi planlet, panjang akar, dan kandungan klorofil total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bakteri simbiotik berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Perlakuan A3 menghasilkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup tertinggi, yaitu mencapai 90%.</p> 2026-06-27T08:35:13+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/732 Peran Modal Sosial Pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Subur Di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan 2026-06-29T05:09:00+07:00 Nia Kurniasih Suryana zlynia@gmail.com Zulhafandi Zulhafandi zulhafandi90@borneo.ac.id <p>Kelompok wanita tani adalah sekumpulan petani dibentuk atas dasar kesamaan, kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan, partisipasi dan solidaritas serta untuk tujuan bersama. Modal sosial memiliki peran penting dalam penguatan kelembagaan dengan memelihara dan membangun integrasi sosial, serta menjadi perekat sosial didalam masyarakat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui peran modal sosial pada kelompok Wanita Tani Tunas Subur di Desa Salimbatu. Metode penentuan sampel menggunakan metode sensus, dengan mengambil satu kelompok populasi sebagai sampel sebanyak 15 sampel. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa modal sosial berperan penting dalam memperkuat kinerja Kelompok Wanita Tani Tunas Subur di Desa Salimbatu. Unsur kepercayaan, gotong royong, jaringan sosial, norma, dan partisipasi mendorong kerja sama yang efektif, meningkatkan kapasitas kelompok, serta mendukung keberlanjutan usahatani. Secara keseluruhan, modal sosial berkontribusi pada penguatan kelembagaan kelompok dan peningkatan kesejahteraan anggota Kelompok Wanita Tani Tunas Subur di Desa Salimbatu Kabupaten Bulungan</p> 2026-06-28T08:09:42+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/753 Keanekaragaman, Dominansi, dan Distribusi Lebah Tanpa Sengat (Meliponini) Pada Berbagai Tipe Habitat Di Desa Karangan Hilir, Kabupaten Kutai Timur 2026-06-29T05:09:06+07:00 Arbain Arbain arbain2002@gmail.com Mufti Perwira Putra muftiotie@gmail.com Veronika Murtinah veronikamurtinah@gmail.com <p>Lebah tanpa sengat (Meliponini) memiliki peran penting sebagai penyerbuk dan penghasil hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekologis dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman, dominansi, dan pola distribusi lebah tanpa sengat pada berbagai tipe habitat di Desa Karangan Hilir, Kabupaten Kutai Timur. Pengamatan lapangan dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2024 di enam tipe habitat, yaitu hutan karst, hutan sekunder, kebun kakao, kebun sawit, kebun karet, dan pemukiman. Analisis data menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), indeks dominansi Simpson (D), indeks kemerataan (E), dan indeks distribusi Morisita (Iδ). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 spesies dengan total 53 koloni, dengan Heterotrigona itama sebagai spesies yang paling dominan. Nilai keanekaragaman tergolong rendah pada seluruh habitat (H’ &lt; 1), yang menunjukkan keterbatasan variasi spesies. Nilai dominansi relatif rendah, namun H. itama menunjukkan kecenderungan dominansi terutama pada habitat pemukiman. Sebagian besar spesies memiliki pola distribusi mengelompok yang mencerminkan preferensi habitat dan ketersediaan sumber daya. Hasil ini menegaskan pentingnya variasi habitat dalam membentuk struktur komunitas Meliponini serta menjadi dasar ilmiah bagi upaya konservasi dan pengembangan budidaya lebah tanpa sengat secara berkelanjutan.</p> 2026-06-27T08:25:07+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/693 Bioekologi Potensi Pemanfaatan Cendawan Beauveria bassiana di Lahan Pertanaman Kacang Panjang dan Bawang Merah dalam Mengendalikan Hama Terinventarisasi 2026-06-29T05:23:55+07:00 Dimas Ganda Permana Putra dimasgandaunimas@gmail.com Zenita Afifah Fitriyani dimasgandaunimas@gmail.com Mega Darmi Novita dimasgandaunimas@gmail.com Sri Purwanti dimasgandaunimas@gmail.com <p>Biopestisida berbasis cendawan entomopatogen <em>Beauveria bassiana</em> memiliki potensi besar sebagai alternatif pengendalian hama ramah lingkungan yang sekaligus mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman hortikultura. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi <em>B. bassiana</em> terhadap pertumbuhan kacang panjang (<em>Vigna unguiculata sesquipedalis</em>) dan bawang merah (<em>Allium ascalonicum</em>) serta mengidentifikasi serangga hama yang terinfeksi di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Mojokerto pada Juni–September 2025 dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor menggunakan empat taraf perlakuan konsentrasi <em>B. bassiana</em> (A0 = kontrol, A1 = 10⁶ spora L⁻¹, A2 = 10⁷ spora L⁻¹, A3 = 10⁸ spora L⁻¹) dan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14, 21, 35, dan 42 HST. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya pengaruh nyata antarperlakuan terhadap pertumbuhan vegetatif. Pada kacang panjang, perlakuan A2 dan A3 memberikan rata-rata tinggi tanaman tertinggi, masing-masing 340,05 cm dan 344,39 cm pada 42 HST, sedangkan jumlah daun tertinggi dicapai perlakuan A2 (21,06 helai). Pada bawang merah, perlakuan A3 menunjukkan tinggi tanaman tertinggi (43,04 cm) dan jumlah daun kompetitif dengan kontrol, mengindikasikan peran <em>B. bassiana</em> dalam meningkatkan vigor tanaman. Inventarisasi hama menunjukkan adanya serangga terinfeksi dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, dan Hemiptera dengan ciri khas bercak putih miselia. Temuan ini membuktikan bahwa <em>B. bassiana</em> tidak hanya efektif sebagai agens pengendali hayati berbagai ordo hama, tetapi juga berperan sebagai biostimulan pertumbuhan vegetatif tanaman hortikultura. Aplikasi ini dapat menjadi strategi integratif dalam pengendalian hama terpadu (PHT) sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan di wilayah hulu DAS Kromong II.</p> 2026-06-27T08:22:01+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/743 Respon Pertumbuhan Miselium Jamur Tiram Kuning (Pleurotus citrinopileatus) Terhadap Berbagai Formulasi Media Baglog 2026-06-29T05:09:18+07:00 Thomas Yoga Prasetya Susilo thomaslie28@gmail.com Ruth Meike Jayanti ruth.jayanti@uksw.edu <p>Jamur tiram kuning <em>(Pleurotus citrinopileatus)</em> merupakan salah satu komoditas jamur pangan yang berpotensi dikembangkan sebagai alternatif sumber pangan bergizi. Optimalisasi media tanam menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan miselium karena media harus mampu menyediakan senyawa<em> lignoselulosa</em> sebagai sumber karbon utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon laju pertumbuhan miselium jamur tiram kuning terhadap formulasi media baglog serta mengetahui media tanam terbaik untuk pertumbuhan bibit jamur tiram kuning. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni–Desember 2025 menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu formulasi media tanam yang terdiri atas tujuh perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan media meliputi kombinasi serbuk kayu sengon, cocopeat, jagung, dan millet. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan miselium yang diukur pada hari ke-7, 14, 21, dan 30. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Tukey (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi media tanam berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan miselium. Perlakuan P1 (serbuk kayu sengon 100%) menghasilkan laju pertumbuhan miselium tertinggi yaitu 0,526 cm/hari dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan perlakuan P2–P7 menghasilkan laju pertumbuhan berkisar antara 0,252–0,341 cm/hari. Media serbuk kayu sengon murni memberikan pertumbuhan miselium paling cepat dan kolonisasi baglog lebih awal karena memiliki kandungan lignoselulosa tinggi serta struktur substrat yang berpori sehingga mendukung aerasi dan pertumbuhan miselium secara optimal.</p> 2026-06-27T08:35:47+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/738 Pengembangan Komoditi Unggulan Pertanian dalam Persfektif Digital Marketing di Kecamatan Ganding 2026-06-29T05:09:24+07:00 Anis Kurli aniskurli@wiraraja.ac.id Rillia Aisyah Haris rillia@wiraraja.ac.id Fauzi Helmi fauzihelmi@wiraraja.ac.id Hidayat Hidayat hidayat@wiraraja.ac.id Deni Fardiansyah Putra deny@pens.ac.id <p>Pengembangan komoditi unggulan pertanian dalam perspektif digital marketing di Kabupaten Sumenep penting untuk dilakukan. Revolusi industri 4.0 menuju era society 5.0 memaksa berbagai produk atau jasa menerapkan sistem berbasis internet untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Adapun tujuan dari penelitian untuk mengidentifikasi media yang digunakan dan yang terlibat dalam pengembangan komoditi unggulan hasil Pertanian Kecamatan Ganding, dan Bagaimana langkah-langkah pengambangan komoditi unggulan hasil pertanian Kecamatan Ganding yang berkelanjutan. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif study kasus. Metodet kualitatif study kasus berusaha memberikan uraian mendalam untuk pengembangan komoditi unggulan pertanian dalam perspektif digital marketing. Hasil penelitian menunjukkan digital marketing memiliki peran signifikan dalam meningkatkan harga penjualan&nbsp; komoditas unggulan hasil pertanian terutama tembakau sebagai produk unggulan hasil pertanian di Kecamatan Ganding mampu menjangku pasar. Dapat dismipulkan dalam pengembangan komoditi unggulan pertanian Kecamatan Ganding melalui perspektif digital marketing, merupakan sebuah langkah strategis yang dilakukan oleh petani untuk meningkatkan daya saing produk komoditas hasil pertanian padi, jagung dan tembakau di pasar lebih luas sehingga memudahkan pembeli untuk mengenal dan mengetahui kualitas yang dihasilkan.</p> 2026-06-27T08:24:15+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/739 Analisis Indeks Kualitas Tanah pada Perkebunan Jeruk di Distrik Teluk Kimi Nabire, Papua Tengah 2026-06-29T05:09:29+07:00 Ishak Musaad Musaad i.musaad@unipa.ac.id Aprilia Damayanti Asaribab apriliaasaribab@gmail.com Amin Mbusango a.mbusango@unipa.ac.id <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Produksi jeruk di Kabupaten Nabire, Papua Tengah menurun meskipun daerah ini terkenal sebagai penghasil jeruk manis di Papua. Penurunan tersebut diduga terkait dengan penurunan kualitas tanah akibat pengelolaan lahan dan penggunaan pupuk kimia yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta menentukan indeks kualitas tanah (IKT) pada lahan perkebunan jeruk di Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire Papua Tengah. Metode yang digunakan adalah metode survei, dan skoring kualitas tanah berdasarkan kriteria Lal. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm dari empat lokasi lahan perkebunan, dan satu lokasi lahan hutan sebagai pembanding. Parameter yang diamati meliputi berat volume, porositas, tekstur, pH, Kapasitas Tukar Kation (KTK), Kejenuhan Basa (KB), Nitrogen total (N-total), Karbon organik (C-organik), Fosfor tersedia (P-tersedia), total mikoriza dan total mesofauna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum berat volume dan porositas tanah tergolong baik, namun tekstur didominasi liat (faktor pembatas berat ekstrem). Tanah bersifat sangat masam dengan kandungan hara dan aktivitas biologi rendah. Nilai indeks kualitas tanah di seluruh lahan tergolong buruk dengan kisaran skor 31-36. Faktor pembatas utama meliputi pH, KB, P-tersedia, N-total, mikoriza dan mesofauna. Disarankan agar dilakukan perbaikan pengelolaan tanah melalui pengapuran, penambahan bahan organik, serta pengawasan penggunaan pupuk dan pestisida untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas jeruk secara berkelanjutan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp; Kata Kunci : Kualitas Tanah, Jeruk,, Teluk Kimi, Nabire</p> <p><a name="_Toc201460600"></a><strong>&nbsp;</strong></p> 2026-06-28T08:10:18+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/741 Eksplorasi dan Karakterisasi Bakteri Endofit Pada Tanaman Gambir (Uncaria gambir Roxb.) di Kabupaten Lima Puluh Kota 2026-06-29T05:09:40+07:00 Diana Putri dianna.12658@gmail.com Ankardiansyah Pandu Pradana pandu@unej.ac.id Arifda Ayu Swastini Waruwu arifdaayu@agr.unand.ac.id <p>Bakteri endofit dapat ditemukan dari semua jaringan tanaman tetapi tidak menyebabkan gangguan atau kerusakan pada tanaman tersebut. Tujuan penelitian untuk mengeksplorasi dan mengkarakterisasi morfologi bakteri endofit dari akar tanaman gambir. Sampel akar gambir diambil dari Sumatera Barat, Kabupaten Lima Puluh Kota dari 5 titik Lokasi yang berbeda. Isolasi dilakukan untuk memperoleh isolat tunggal bakteri endofit. Karakterisasi meliputi pengamatan morfologi koloni, uji gram dengan KOH 3% serta uji patogenesitas pada daun tembakau. Hasil isolasi diperoleh 23 isolat tunggal bakteri endofit, dimana dari pengamatan morfologi didominasi oleh bentuk koloni yang tidak beraturan, permukaan yang halus tidak mengkilap, elevasi datar dan warna koloni putih susu. Dari 23 isolat yang diuji gram dengan KOH 3%, sebanyak 11 isolat tergolong gram negatif dan 12 isolat lainnya kelompok gram positif. Uji patogenesitas pada daun tembakau diperoleh hasil sebanyak 7 isolat menunjukkan reaksi hipersensitif yang ditandai dengan gejala nekrosis, sedangkan 16 isolat lainnya tidak menunjukkan gejala nekrosisi pada daun tembakau</p> 2026-06-27T12:23:25+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/754 Parameter Genetik dan Analisis Lintas Komponen Agronomi dan Hasil untuk Seleksi Dini Gandum Tropis 2026-06-29T05:09:44+07:00 Yuniel Melvanolo Zendrato yuniel.zendrato@uksw.edu Theresa Dwi Kurnia theresa.dk@uksw.edu Grafen Febrich Panarai 512021015@student.uksw.edu <p>Pengembangan gandum secara domestik di lingkungan tropis sangat krusial untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Seleksi dini yang presisi merupakan tahapan vital dalam mengidentifikasi kandidat potensial berdasarkan keragaman genetik dan performa agronominya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter genetik, hubungan kausalitas, dan pengaruh langsung antarkarakter, serta melakukan seleksi dini genotipe gandum di daerah tropis. Sebanyak 30 genotipe gandum, terdiri dari 25 galur mutan M2 hasil induksi sinar gamma dan 5 varietas pembanding, diuji menggunakan <em>augmented</em> rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT), dengan pembanding diulang dalam tiga kelompok. Hasil penelitian menunjukkan adanya variabilitas genetik yang luas pada karakter agronomi, hasil, dan komponen hasil, dengan nilai heritabilitas arti luas yang sangat tinggi pada karakter bobot 100 biji (99,10%). Analisis lintas mengonfirmasi bahwa berat biji malai utama merupakan determinan utama hasil dengan pengaruh langsung positif paling dominan (0,85) terhadap komponen bobot 100 biji. Berdasarkan seleksi multivariat <em>multi-trait genotype-ideotype distance index</em> (MGIDI), terpilih delapan genotipe terbaik, yaitu G08, G21, G04, G16, G10, G02, G07, dan G20, yang memiliki profil kekuatan paling mendekati ideotipe teoretis. Genotipe-genotipe unggul ini merupakan basis genetik yang sangat potensial untuk digunakan dalam keberlanjutan program pemuliaan gandum di masa depan guna menghasilkan varietas yang adaptif dan berdaya hasil tinggi di Indonesia.</p> 2026-06-28T08:13:27+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/745 Pertumbuhan Benih Bungli (Oroxylum indicum (L.) Kurz) Melalui Diferensiasi Ukuran Biji 2026-06-29T05:09:51+07:00 Agung Kurnia agungkurnia@unja.ac.id Rahmi Dianita rahmi_dianita@unja.ac.id Yun Alwi alwiyun@unja.ac.id Henny H hennysaid09@gmail.com M Gilang Ramadhani wiratfrayoga23@gmail.com Wirat Prayoga wiratfrayoga23@gmail.com <p>Bungli (<em>Oroxylum indicum</em>) merupakan pohon tropis yang memiliki nilai ekologis, budaya, dan farmakologis tinggi di Asia, termasuk Indonesia. Di Jambi, khususnya kawasan Candi Muaro Jambi, tanaman ini memiliki makna historis dan spiritual serta dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Namun, keberadaannya terancam akibat eksploitasi berlebih, kerusakan habitat, serta alih fungsi lahan. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca yang berlokasi di Jambi dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran biji terhadap vigor dan pertumbuhan awal bibit Bungli. Keberhasilan konservasi sangat dipengaruhi oleh kualitas benih, terutama vigor yang menentukan kemampuan berkecambah dan tumbuh secara optimal. Ukuran benih berhubungan erat dengan cadangan makanan yang mendukung perkembangan embrio. Benih berukuran lebih besar umumnya memiliki vigor lebih tinggi, mampu berkecambah lebih cepat, serta menghasilkan pertumbuhan bibit yang lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih berukuran sedang (13–15 mm) dan besar (16–17 mm) menghasilkan bibit dengan tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar yang lebih unggul dibandingkan benih kecil (11–12 mm). Oleh karena itu, pemilihan ukuran benih menjadi faktor penting dalam pembibitan untuk mendukung upaya konservasi Bungli secara berkelanjutan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi pertumbuhan jangka panjang serta kandungan fitokimia bibit.</p> <p>&nbsp;</p> 2026-06-28T10:29:42+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/768 Pengaruh Kelas Lereng terhadap Karakteristik Kimia Tanah Ultisol dan Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kutai Timur, Kalimantan Timur 2026-06-29T05:09:55+07:00 Dian Triadiawarman diantriadi72@gmail.com Veronika Murtinah veronikamurtinah@gmail.com Amprin Amprin amprin@stiperkutim.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kimia tanah Ultisol pada berbagai kelas lereng dan mengevaluasi faktor pembatas kesesuaian lahan untuk budidaya kelapa sawit di Desa Tepian Indah, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pengambilan sampel tanah dilakukan menggunakan metode stratified random sampling pada tiga kelas lereng, yaitu 0–8%, &gt;8-15%, dan &gt;15-25% dengan kedalaman 0-30 cm. Parameter yang dianalisis meliputi pH tanah, C-organik, N-total, P tersedia, K tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), dan kejenuhan basa (KB). Data dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA), uji lanjut DMRT 5%, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta evaluasi kesesuaian lahan menggunakan metode matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lokasi memiliki reaksi tanah sangat masam (pH 3,73-4,04), kandungan C-organik rendah (1,05-1,21%), KTK sangat rendah (4,02-5,29 cmol(+)/kg), serta ketersediaan P dan K yang rendah. Analisis ragam menunjukkan bahwa kelas lereng berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diamati (p&lt;0,05). Kandungan C-organik memiliki korelasi positif sangat kuat dengan kejenuhan basa (r = 0,927), sedangkan KTK menunjukkan korelasi negatif sangat kuat (r = -0,985). Evaluasi kesesuaian lahan mengindikasikan bahwa seluruh kelas lereng termasuk kelas S3 (sesuai marginal) dengan faktor pembatas utama berupa retensi hara, ketersediaan hara, dan bahaya erosi. Perbaikan kualitas lahan melalui pengapuran, penambahan bahan organik, pemupukan berimbang, dan konservasi tanah diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan budidaya kelapa sawit pada lahan Ultisol berlereng.</p> 2026-06-28T10:30:25+07:00 ##submission.copyrightStatement## https://ojs.stiperkutim.ac.id/index.php/jpt/article/view/771 Dekomposisi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) Menggunakan Bioaktivator, Maggot, dan Vermikompos untuk Pertanian Organik Berkelanjutan 2026-06-29T05:09:58+07:00 Encik Akhmad Syaifudin sempaja@gmail.com Ni’matuljannah Akhsan encik_akhmad@faperta.unmul.ac.id Suryana Suryana encik_akhmad@faperta.unmul.ac.id Akmal Alisyahbana encik_akhmad@faperta.unmul.ac.id Syah Fiqri Farizki encik_akhmad@faperta.unmul.ac.id <p>Penelitian ini dilakukan di Samarinda untuk menilai efektivitas bioaktivator, maggot (<em>Hermetia illucens</em>), dan vermikompos dalam mempercepat proses pengomposan eceng gondok (<em>Eichhornia crassipes</em>). Rancangan Acak Kelompok digunakan dengan enam perlakuan: kontrol tanpa bahan tambahan (E<sub>0</sub>), bioaktivator (E<sub>1</sub>), maggot (E<sub>2</sub>), vermikompos (E<sub>3</sub>), kombinasi maggot–bioaktivator (E<sub>4</sub>), dan kombinasi vermikompos–bioaktivator (E<sub>5</sub>), masing‑masing diulang delapan kali (total 48 unit percobaan). Variabel yang diukur meliputi penyusutan massa, dinamika suhu, pH akhir, rasio C/N, kandungan makronutrien (N, P, K), dan karbon organik. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji LSD pada taraf signifikansi 0,05.&nbsp; Bioaktivator (E<sub>1)</sub> menghasilkan suhu puncak tertinggi (64,29°C) yang menunjukkan aktivitas mikroba yang kuat, namun menghasilkan rasio C/N yang relatif tinggi (26,88). Perlakuan maggot (E<sub>2</sub>) menghasilkan penyusutan biomassa terbesar (56,25%) dan kadar kalium tertinggi (6,05%), dengan rasio C/N sebesar 16,48. Vermikompos (E<sub>3</sub>) menghasilkan kompos yang lebih stabil dengan rasio C/N 15,26. Secara khusus, kombinasi bioaktivator–maggot (E<sub>4</sub>) menghasilkan kompos paling matang dan kaya nutrisi, dengan rasio C/N terendah (8,33) dan kadar nitrogen tertinggi (1,98%). Sementara itu, kombinasi bioaktivator–vermikompos (E<sub>5</sub>) menghasilkan rasio C/N sebesar 12,16.&nbsp; Secara keseluruhan, bioaktivator meningkatkan kondisi termofilik, maggot mempercepat degradasi biomassa dan meningkatkan kalium, dan vermikompos mendukung stabilisasi kompos. Di antara semua perlakuan, E<sub>4</sub> merupakan masukan paling efektif untuk menghasilkan kompos berkualitas tinggi secara efisien, menawarkan pendekatan berkelanjutan untuk pengelolaan gulma air dan mendukung pertanian organik</p> 2026-06-28T21:10:32+07:00 ##submission.copyrightStatement##